Rabu, 16 Juni 2021

MANAJEMEN KEUANGAN, KONFLIK DAN RISIKO MSDM DI LEMBAGA PENDIDIKAN YPI AL-HIDAYAH CIBADAK

 

ESSAI

MANAJEMEN KEUANGAN, KONFLIK DAN RISIKO MSDM DI LEMBAGA PENDIDIKAN YPI AL-HIDAYAH CIBADAK

Essai Ini disusun untuk Memenuhi Tugas UTS Mata Kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia

Dosen Pengampu: Ahmad Munawwaru Zaman, M.Si.


 

Disusun oleh:

Kelompok 11

Fikri Wahyu Pratama                      11190530000082

M. Ali Imron Hamzah Al-Muhdor 11190530000061

Siti Sofiah Rahmawati                      11190530000077

 

JURUSAN MANAJEMEN DAKWAH 4B

FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

1442 H/2021 M

 


 

MANAJEMEN KEUANGAN, KONFLIK DAN RISIKO MSDM DI LEMBAGA PENDIDIKAN YPI AL-HIDAYAH CIBADAK

 

A.    Pengelolaan Manajemen Keuangan di YPI Al-Hidayah Cibadak

Manajemen Keuangan yaitu pengelolaan semua bentuk keuangan baik usaha memperoleh atau mengumpulkan modal untuk membiayai aktifitas atau kegiatan yang secara langsung maupun tidak langsung untuk menunjang penyelenggaraan secara efektif dan efisien dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Menurut Bambang Ryanto, pengertian manajemen keuangan adalah semua aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan yang berhubungan dengan upaya memperoleh dana yang dibutuhkan dengan adanya biaya yang seminimal mungkin dan syarat yang menguntungkan serta upaya untuk mempergunakan dana yang diperoleh tersebut secara efisien dan efektif.

Manajemen keuangan dibutuhkan di setiap perusahaan, organisasi, maupun lembaga-lembaga terkhusus lembaga pendidikan. Secara garis besar, manajemen keuangan yayasan adalah kegiatan pengelolaan keuangan yayasan. Kegiatan tersebut meliputi perencanaan anggaran, pengorganisasian, pembukuan, pelaksanaan atau pembelanjaan, pengawasan dan terakhir pertanggungjawaban.

Manajemen keuangan perlu diterapkan oleh institusi pendidikan supaya pemanfaatan dana yayasan bisa lebih efektif dan efisien, penggunaan keuangan yayasan bisa lebih transparan dan akuntabilitas nya terjamin, serta anggaran bisa digunakan dengan semestinya dan penyalahgunaan anggaran bisa diminimalisir. Begitupun di Yayasan Perguruan Islam Al-Hidayah Cibadak, yang berlokasi di Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat.

Yayasan pasti memiliki cara bagaimana dalam mengatur, mengelola keuangan yang ada. Yayasan ini sudah dibangun sejak dahulu dan sekarang berusia 54 tahun dan terdiri dari Madrasah Tsanawiyah (MTS), Madrasah Aliyah (MA), dan pondok pesantren. Walaupun begitu, dalam mengelola keuangan pasti mengikuti perkembangan zaman yang ada, tidak hanya berpatok kepada ketentuan zaman dahulu.

Kami mendapat kesempatan untuk mewawancarai KH. M. Sofyan Damiri selaku Ketua Yayasan YPI Al-Hidayah Cibadak mengenai pengelolaan keuangan, mengatasi konflik, dan risiko yang kemungkinan dapat terjadi. Menurut beliau, dalam mengatur keuangan yayasan adalah diangkatnya salah seorang bendahara untuk mengurus keuangan yayasan. Bendahara diberikan wewenang untuk mengelola keuangan tersebut dengan selalu melaporkan kepada pihak yayasan minimal setiap bulan.

Setelah dipilih bendahara maka yayasan membuat rekening atas nama yayasan (bukan atas nama pribadi) yang ditanda tangani oleh ketua dan bendahara yayasan. Tujuan dibuatnya rekening ini agar memudahkan dalam proses pendataan keluar masuknya uang dan dapat terpantau oleh yayasan. Ketika ada dana yang masuk kepada yayasan, maka dana tersebut biasanya dialokasikan untuk keperluan yayasan, baik sarana atau prasarana.

Yayasan bisa mendapatkan dana dari beberapa sumber, diantaranya pemerintah, orang tua/wali, masyarakat, dana swadaya, dan sumber lain. Dana pendidikan bisa bersumber dari pemerintah pusat melalui APBN maupun pemerintah daerah melalui APBD. Contoh pendanaan nonpersonalia untuk yayasan dari pemerintah yaitu program BOS. Yayasan ini termasuk yayasan swasta dan biasanya mendapatkan program BOS.

Dana bisa berasal dari orang tua/wali. Pihak yayasan biasanya juga menghimpun biaya pendidikan (SPP) dari orang tua atau wali siswa. Semakin baik fasilitas yayasannya, biaya SPP biasanya akan lebih mahal. Yayasan swasta yang bonafit biasanya menerapkan hal ini.

Yayasan juga bisa mendapat pendanaan dari masyarakat umum yang bukan termasuk orang tua atau wali siswa. Contohnya seperti bantuan dari lembaga keuangan, sponsorship dari perusahaan, donasi dari lembaga sosial, donasi dari alumni, dan lain-lain.

Selain itu juga bisa mendapatkan dana dari usaha mandiri yayasan atau dana swadaya. Beberapa contoh usaha mandiri yayasan yang bisa menghasilkan dana seperti kantin yang dikelola yayasan secara mandiri, koperasi yayasan, panen kebun yayasan, lomba, dan event kesenian. Selain yang sudah disebutkan di atas, masih ada sumber alternatif lainnya.

Memanfaatkan keuangan yayasan tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Keuangan yayasan berkaitan dengan kepentingan banyak orang jadi harus memenuhi prinsip keadilan, akuntabilitas publik, efisiensi, efektif, dan transparan. Pada pemanfaatan keuangan yayasan, setidaknya perlu mengikuti langkah-langkah berikut ini:

1.      Menyusun RAPBS

Pada tahap perencanaan, menyusun RAPBS adalah hal wajib. RAPBS merupakan rencana penggunaan sumber dana untuk pelaksanaan pendidikan di yayasan atau yayasan selama 1 tahun. Penyusunan RAPBS biasanya melibatkan ketua yayasan, pembina yayasan, kepala sekolah, bendaraha, seluruh guru, komite sekolah, staf tata usaha dan bagian dari komunitas yayasan.

Pada RAPBS juga perlu dijelaskan secara detail tentang plot anggarannya. Apakah anggaran tersebut merupakan kelanjutan dari periode sebelumnya atau merupakan anggaran terhadap hal baru.

2.      Pengadaan dan Pengalokasian Anggaran

Setelah RAPBS selesai dibahas dan sudah disepakati, selanjutnya ditetapkan menjadi APBS atau saat ini lebih dikenal dengan istilah RKAS. APBS/RKAS kemudian dijadikan patokan untuk pelaksanaan segala program yayasan atau sekolah.

APBS/RKAS sangat penting karena bisa berpengaruh terhadap seluruh kebijakan di yayasan. Pengawasan terhadap pengelolaan anggaran pendidikan di masing-masing yayasan juga akan mengacu pada APBS/RKAS. APBS/RKAS yang berhasil disusun dengan tepat, diharapkan bisa mempengaruhi kualitas pelayanan pendidikan menjadi lebih baik juga.

3.      Pelaksanaan Anggaran Yayasan

Pada tahap ini seluruh rencana mulai direalisasikan. Supaya pelaksanaan anggaran berjalan baik, dibutuhkan pengorganisasian. Pada pengorganisasian ini, akan ada pengelompokan satuan tugas yang bertanggung jawab pada masing-masing hal.

4.      Pemantauan

Pihak yang bertugas perlu memantau pelaksanaan anggaran supaya semuanya berjalan sesuai rencana, terlaksana secara runtut dan diselesaikan sesuai tujuan. Hal ini sangat penting untuk dijalankan supaya realisasi anggaran tepat sasaran dan tidak ada penyimpangan.

5.      Pembukuan Keuangan Yayasan

Pada tahap pembukuan, seluruh transaksi keuangan dicatat dengan sedemikian rupa. Seluruh bukti transaksi juga perlu dicantumkan. Dengan demikian, seluruh transaksi bisa terlacak dan jelas berapa nilai transaksinya.

6.      Pertanggung Jawaban

Pada tahap ini, seluruh penerimaan dan pengeluaran keuangan yayasan dilaporkan. Menggunakan laporan tersebut, pihak yayasan akan mempertanggungjawabkan realisasi anggaran kepada sumber dana.

7.      Penilaian Kinerja

Mengacu pada laporan keuangan, manajemen keuangan yayasan bisa dinilai kinerjanya. Apakah sudah sesuai harapan atau belum. Pihak yayasan bisa melaksanakan manajemen keuangan yayasan yang baik sesuai dengan abad 21 dengan memanfaatkan ICT.

Terdapat sistem informasi manajemen keuangan yayasan yang bisa diaplikasikan oleh pihak yayasan. Sistem tersebut akan memudahkan dalam pengolahan data, rekapitulasi laporan keuangan, dan transparansi pada sumber dana.

Supaya bisa menjalankan manajemen keuangan yayasan yang baik, membutuhkan SDM yang berpengetahuan dan kompeten. Ketua yayasan adalah sosok sentral dalam hal ini.

 

B.     Mengatasi Konflik yang terjadi di YPI Al-Hidayah Cibadak

Konflik merupakan kondisi terjadinya ketidakcocokan antar nilai atau tujuan-tujuan yang ingin dicapai, baik yang ada dalam diri individu maupun dalam hubungannya dengan orang lain. Setiap perusahaan, organisasi, lembaga, maupun yayasan pasti memiliki konflik yang terjadi baik di internal maupun eksternalnya.

Konflik kelembagaan dominan muncul di lembaga pendidikan Islam yang berada dalam wilayah pengelolaan Yayasan. Lembaga pendidikan Islam, seperti pondok pesantren dan madrasah memiliki kompleksitas persoalan yang rentan terjadi konflik, baik konflik antar individu ataupun konflik antar kelompok.

Konflik akan selalu ada kapan, dan dimana saja. Hal yang terpenting dilakukan adalah mempersiapkan aturan-aturan untuk mengatasi terjadinya konflik yang tidak sehat tersebut. Munculnya konflik biasanya diawali dengan munculnya bibit-bibit konflik.

Sehubungan dengan itu pimpinan atau ketua yayasan bertanggung jawab untuk mengindentifikasi sumber-sumber dan tipe-tipe konflik tersebut sedini mungkin, serta menganalisa akibat-akibat yang mungkin timbul. Begitu pula pimpinan harus mengetahui kekuatan-kekuatan dan kelemahan untuk dapat menentukan langkah-langkah preventif yang dilakukan secara tepat.

Konflik yang terjadi walaupun menimbulkan ketegangan, tetap diperlukan untuk kemajuan dan perkembangan lembaga. Konflik dapat menjadi kekuatan jika dikelola dengan baik, dan dapat dijadikan alat untuk melakukan perubahan, akan tetapi sebaliknya dapat menurunkan kinerja jika tidak dikendalikan dengan baik. Maka dari itu dibutuhkannya sutau pengelolaan atau manajemen ketika adanya konflik.

Manajemen konflik merupakan langkah-langkah yang diambil para pelaku atau pihak ketiga dalam rangka mengarahkan perselisihan ke arah hasil tertentu yang mungkin atau tidak mungkin menghasilkan suatu akhir berupa penyelesaian konflik dan mungkin atau tidak mungkin menghasilkan ketenangan, hal positif, kreatif, bermufakat, atau agresif. Manajemen konflik dapat melibatkan bantuan diri sendiri, kerjasama dalam memecahkan masalah (dengan atau tanpa bantuan pihak ketiga) atau pengambilan keputusan oleh pihak ketiga.

Dengan manajemen konflik pemimpin dapat mengubah konflik menjadi sumber kekuatan untuk meningkatkan kinerja dan produktivitas. Konflik perlu diolah dan dibuat menjadi kekuatan sebuah lembaga. Tentunya semua itu perlu tata kelola manajemen konflik yang sesuai dengan kebutuhan dan sasarannya.

Konflik disatu sisi dapat bermanfaat, di sisi lain dapat merugikan jika tidak dikelola dengan baik. Demikian halnya dalam sebuah lembaga, meskipun kehadiran konflik sering menimbulkan ketegangan, tetap diperlukan untuk kemajuan dan perkembangan lembaga.

Manajemen konflik merupakan faktor penting dalam mewujudkan lembaga yang produktif. Untuk itu lembaga pendidikan harus dikelola oleh manajer pendidikan yang profesional, dalam arti mampu mendaya gunakan sumber daya yang ada dan dapat mengelola konflik secara baik shingga kinerja anggota lembaga dapat ditingkatkan secara optimal.

Dengan meningkatnya kinerja, maka meningkat pula produktivitas lembaga. Seorang pemimpin yang ingin memajukan lembaganya, harus memahami faktor-faktor apa saja yang menyebabkan timbulnya konflik, baik konflik yang alami maupun konflik yang diciptakan. Kemampuan mengelola konflik diperlukan oleh semua pemimpin lembaga, termasuk pimpinan Yayasan Perguruan Islam Al-Hidayah Cibadak.

Menurut Stevenin (Stevenin; 134-135) terdapat lima langkah meraih kedamaian dalam konflik. Apa pun sumber masalahnya, lima langkah berikut ini bersifat mendasar dalam mengatasi kesulitan:

1.      Pengenalan

Kesenjangan antara keadaan yang ada diidentifikasi dan bagaimana keadaan yang seharusnya. Satu-satunya yang menjadi perangkap adalah kesalahan dalam mendeteksi (tidak mempedulikan masalah atau menganggap ada masalah padahal sebenarnya tidak ada).

2.      Diagnosis

Inilah langkah yang terpenting. Metode yang benar dan telah diuji mengenai siapa, apa, mengapa, dimana, dan bagaimana berhasil dengan sempurna. Pusatkan perhatian pada masalah utama dan bukan pada hal-hal sepele.

3.      Menyepakati suatu solusi

Kumpulkanlah masukan mengenai jalan keluar yang memungkinkan dari orang-orang yang terlibat di dalamnya. Saringlah penyelesaian yang tidak dapat diterapkan atau tidak praktis. Jangan sekali-kali menyelesaikan dengan cara yang tidak terlalu baik. Carilah yang terbaik.

4.      Pelaksanaan

Ingatlah bahwa akan selalu ada keuntungan dan kerugian. Hati-hati, jangan biarkan pertimbangan ini terlalu mempengaruhi pilihan dan arah kelompok.

5.      Evaluasi

Penyelesaian itu sendiri dapat melahirkan serangkaian masalah baru. Jika penyelesaiannya tampak tidak berhasil, kembalilah ke langkah-langkah sebelumnya dan cobalah lagi.

Begitupun dengan Yayasan Perguruan Islam Al-Hidayah Cibadak, ketika ada suatu konflik yang terjadi maka diselesaikan secara kekeluargaan dan mengadakan rapat/musyawarah yayasan. Untuk menghindari konflik yang terjadi juga, yayasan sering mengadakan rapat atau musyawarah yayasan yang diadakan maksimal enam bulan sekali.

 

C.    Risiko Manajemen Sumber Daya Manusia di YPI Al-Hidayah Cibadak

Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) juga berperan sama pentingnya dalam memberikan efek yang baik bagi yayasan. Jika tidak diterapkan dengan baik, maka berbagai risiko manajemen sumber daya manusia mungkin akan terjadi di suatu yayasan, organisasi maupun lembaga. Yayasan yang memiliki manajemen sumber daya manusia yang baik, akan menciptakan juga lingkungan kerja yang kondusif. Ada lima indikator keberhasilan pengelolaan SDM:

1.      Tingkat produktivitas

Semakin tinggi tingkat produktivitas semakin baik tingkat keberhasilan pengelolaan SDM. Tingkat produktivitas yang baik perlu dilihat dengan menggunakan patokan atau benchmark terhadap lembaga lain dan dengan melihat pertumbuhan tingkat produktivitasnya.

2.      Tingkat perputaran anggota

Semakin rendah perputaran anggota (turnover) berarti pengelolaan SDM semakin baik. Perputaran anggota yang tinggi mengindikasikan adanya komponen dalam kesepakatan transaksi tersebut tidak dapat terpenuhi.

3.      Tingkat mangkir

Semakin tinggi tingkat mangkir (absentism) berarti semakin rendah kualitas pengelolaan SDM. Tingkat mangkir yang tinggi merupakan akibat dari rusaknya suasana tersebut.

4.      Tingkat kepuasan

Tingkat kepuasan juga menjadi ukuran yang penting dalam pengelolaan SDM. Setiap anggota, dalam membuat transaksi pertukaran dengan lembaga, memiliki ekspektasi tertentu. Pencapaian tersebut menjadi sumber kepuasan anggota.

5.      Tingkat kewargaan anggota

Kewargaan anggota (employee citizenship) merupakan ukuran seberapa jauh seorang anggota menunjukan sikap dan perilakunya sebagai warga perusahaan yang baik. Semakin baik anggota memenuhi transaksi, bahkan memaksimalisasi nilai transaksi, semakin baik pengelolaan SDM dalam perusahaan.

Manajemen risiko adalah segala proses kegiatan yang dilakukan semata untuk meminimalkan bahkan mencegah terjadinya risiko perusahaan. Di dalamnya ada kegiatan identifikasi, perencanaan, strategi, tindakan, pengawasan dan evaluasi terhadap hal-hal negatif yang kemungkinan akan menimpa usaha. Bisa dibilang juga jenis manajemen ini adalah satu metode untuk mencegah perusahaan mengalami masalah. Dalam hal ini berarti yayasan.

Risiko yang ditimbulkan SDM perlu dikelola agar tidak menimbulkan kerugian, baik finansial maupun reputasi, hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko merugikan. Manajemen risiko merupakan salah satu cara untuk mengatasi hal itu. Karena manajemen risiko merupakan proses pengukuran atau penilaian serta memerlukan seni untuk mengembangkan strategi pengelolaannya, misalnya risiko itu dipindahkan kepada pihak lain, mengurangi efek negatif dari risiko, dan lain-lain. Pada model pendekatan tradisional, risiko yang ditimbulkan oleh SDM hanya berkisar pada kematian, tuntutan hukum, dan upah). Agar tidak menimbulkan risiko, maka SDM perlu dikelola secara profesional, yaitu dengan memperhatikan kaidah-kaidah yang ada dalam manajemen SDM.

Untuk mengurangi risiko perlu pula dilakukan pengendalian internal. Suatu organisasi yang dikelola tentunya memiliki unsur-unsur pengelolaan atau manajemen yaitu unsur perencanaan (planning), unsur pengorganisasian (organizing), unsur pelaksanaan (actuating) dan unsur pengendalian (controlling). Unsur tersebut diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi. Sistem pengendalian (controlling) dapat berasal dari organisasinya sendiri (intern) maupun berasal dari luar organisasinya (ekstern). Objek yang dikendalikan oleh sistem ini adalah unsur-unsur pengelolaan organisasi seperti yang tercantum di atas, yaitu pengendalian terhadap perencanaan, pengendalian terhadap pengorganisasian dan pengendalian terhadap pelaksanaan. Pengendalian intern harus terus dikembangkan agar tujuan organisasi dapat tercapai.

Untuk meminimalisir risiko yang akan terjadi, maka yayasan membuat struktur kepengurusan yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan yang ada. Adanya struktur kepengurusan tertulis dari MSDM tentu akan sangat membantu yayasan dalam memberikan pekerjaan kepada masing-masing karyawan. Sebaliknya, struktur kepengurusan yang buruk dapat menjadi risiko manajemen sumber daya manusia lain yang akan yayasan hadapi.

Yayasan biasanya selalu mengadakan musyawarah secara kekeluargaan dengan se-dini mungkin agar terhindar dari risiko, dan konflik yang akan terjadi. Musyawarah ini biasanya diikuti oleh ketua yayasan, kepala MTS-MA, seluruh guru di yayasan, dan staf administrasi atau tata usaha yayasan. Karena dengan diadakannya musyawarah, maka komunikasi antar yayasan dengan pihak sekolah dapat berjalan dengan baik, efektif, dan efisien. Sehingga dapat mengurangi risiko yang akan terjadi.

Senin, 08 Maret 2021

FILOSOFI KEWIRAUSAHAAN (Perlukah Kita Berwirausaha?)

sumber foto: http://news.unair.ac.id/2019/12/03/jiwa-kewirausahaan-dilahirkan-atau-dibentuk/


Pernahkah kalian belajar berenang? atau belajar sepeda? atau belajar tentang pelajaran?

Ya, mungkin sebagian besar akan menjawab "pernah"

Namun, apakah kalian langsung bisa setelah belajar tersebut?

    Saya yakin, tidak semua orang yang belajar akan langsung bisa. Hari ini, saya kuliah mengenai kewirausahan dan mendengar cerita-cerita dari kawan saya mengenai proses belajar tersebut. Lalu apa kaitannya?

    Ketika kita belajar sepeda, pasti pernah mengalami jatuh, luka, nyungseb ke sawah, dan nyungseb-nyungseb lainnya hihi. Begitupun ketika kita belajar berenang, pasti ada yang pernah tenggelam hingga trauma. Kita tidak akan bisa ketika kita tidak mencoba.

    Berbicara mengenai filosofi kewirausahaan yang berkaitan dengan kasus tersebut, kita diharuskan untuk berani, tidak pantang menyerah, tidak mudah berputus asa, dan memiliki sifat yang "kekeuh" untuk bisa.

    Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia membutuhkan uang untuk menunjang kehidupannya. Salah satu cara untuk mendapatkan uang adalah dengan berwirausaha. Hal yang harus kita perhatikan ketika memulai usaha adalah niat, keberanian dalam mengambil keputusan, adanya keterpaksaan, pandai membaca peluang, dan mulai berpikir untuk membuka usaha apa.

    Saya diberikan materi oleh dosen kewirausahaan, koperasi, dan UMKM (Bapak Lili Bariadi, S.Ag, M.Si.) mengenai "Beginning to Develop Your Business Plan". Dalam materi tersebut terdapat 19 pertanyaan yang harus dijawab jika kita ingin memulai usaha. Beberapa diantaranya, usaha apa yang akan kita buat, siapakah yang menjadi sasaran usaha kita, dimana kita akan memulai usaha, dan lain sebagainya.

    Intinya, kita perlu utuk berwirausaha dan jangan pernah takut untuk mencoba. Semangat bagi para pengusaha yang sedang merintis karirnya. Dan jika kalian ingin iklan di blogspot saya, silahkan tulis di kolom komentar yaa usahanya apaa hehe. Mari kita saling membantu :)