Rabu, 16 Desember 2020

Teruntuk seseorang yang membuatku bangkit

Halo semua. Untuk menutup tulisan akhir semester ini, aku mau mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang sudah memberikan support, membantu aku saat diminta/tidak diminta, dan bapak dosen yang sudah memberikan tugas untuk menulis di blog. Jadi aku bisa sambil cerita dikit deh hehe.


Awal tahun 2020 ini memang terasa sangat berat, rencana awal yang harusnya terlaksana, harus tertunda karena kita sedang dilanda pandemi. Gak heran ko, kalau ada yang down, depresi, insecure atas semuanya. Karena, yang biasanya kita lancar-lancar aja ngelakuin sesuatu, terus harus tertunda. 


Aku sangat bersyukur juga di tahun ini menjadi salah satu waktu aku dalam proses pendewasaan. Mulai dari susah, sedih, terpuruk hingga bahagia. Melewati semua itu, Allah mengirimkan seseorang yang dapat menghibur, membangkitkan semangat aku, dan bikin aku bisa membuka mata, melihat dunia membuatku semakin bersyukur sudah diberikan kehidupan yang indah ini.


Hai kamu yang lagi ditulis di blog aku, pasti lagi ketawa-ketawa baca ini 😂. Aku sangat-sangat berterima kasih karena udah bikin aku kembali menjadi "aku", bukan orang lain. Membangun rasa kepercayaan diri aku lagi. Sebenernya masih banyak yang mau diceritain, but i think enough hehe. Semoga temen-temen yang sedang down diluaran sana, bisa menemukan hal yang dapat menjadi bangkit lagi yaa. 

I hope u find your dreams and your happiness too❤️ 


With love,


💕

Senin, 07 Desember 2020

Kenapa Da'i Harus Mempelajari Psikologi Dakwah?

    Menurut asal katanya psikologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Psyche dan Logos. Psyche berarti jiwa, sukma, roh, sedangkan logos berarti ilmu pengetahuan atau studi. Jadi pengertian psikologi secara harfiah adalah ilmu tentang jiwa.[1] Dalam pengertian lain disebutkan psikologi adalah ilmu tentang fitrah manusia, kecenderungan manusia, perkembangan manusia, dan pikiran manusia.[2]

    Jadi, psikologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan alam sekelilingnya, mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan sesama manusia dan mempelajari aktivitas – aktivitas jiwa yang tidak tampak dalam pernyataan – pernyataan, misalnya melamun, berfantasi yang tidak diekspresikan dan sebagainya.[3]

    Salah satu bentuk keberhasilan dalam dakwah adalah berubahnya sikap kejiwaan seseorang. Dakwah bermaksud mengubah sikap seorang mad’u, maka pendekatan psikologis menjadi sesuatu yang sangat penting. Dalam masyarakat modern, kedudukan dan peran psikologi dapat dikatakan sebagai sarana efektif berhasil tidaknya tujuan yang diharapkan, baik secara individu maupun secara kelompok. Di samping itu, psikologi memberikan pula cara-cara bagaimana yang lebih tepat dalam pemecahan masalah-masalah kemanusiaan, baik ia sebagai individu atau sebagai kelompok masyarakat, begitu pula dapat diterapkan dalam masalah agama, khususnya sebagai acuan metodologi dakwah, merupakan suatu yang tidak dapat ditinggalkan (M. Arifin, 1997: 10-12).[4] Dari segi psikologi, dakwah dalam prosesnya dipandang sebagai pembawa perubahan. Dari segi dakwah, psikologi banyak memberi jalan pada perumusan tujuan dakwah pemilihan materi dan penetapan metodenya.

    Pesan dakwah harus disampaikan dengan pendekatan psikologis, yakni sesuai dengan cara berpikir dan merasa mad’u. Dengan memperhatikan faktorfaktor perkembangan psikologis beserta ciri-cirinya, maka pesan dakwah yang disampaikan oleh da’i akan dapat meresap dan diterima dalam pribadi sasarannya kemudian diamalkan dengan perasaan yang tulus tanpa adanya ganjalan karena hal tersebut dapat menyentuh dan memuaskan kehidupan rohaninya.[5]

    Jadi, dapat disimpulkan bahwa psikologi dakwah dapat menunjang serta membagikan pandangan kepada para da’i tentang pola serta tingkah laku para mad’ u serta hal- hal yang mempengaruhi tingkah laku tersebut yang berkaitan dengan aspek kejiwaan (psikis) sehingga memudahkan para da’i untuk mengajak mereka kepada apa yang dikehendaki oleh ajaran islam.



[1] Alex Sobur, Psikologi Umum Dalam Lintasan Sejarah (Bandung: Pustaka Setia, 2003) hlm.19

[2] Andiharyadi, Dimensi Spiritual Psikologi (Bandung: Pustaka Hidayah, 2000) hlm.13

[3] Ki Fudyartanta, Psikologi Umum I dan II (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001) hlm. 9

[4] Arifin, H.M.. (1997). Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Studi. Jakarta: Bulan Bintang. Hlm 10-12

[5] Silvia Riskha Fabriar, Jurnal Urgensi Psikologi dalam aktivis Dakwah (Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Walisongo Semarang, 2019)