ESSAI
MANAJEMEN
KEUANGAN, KONFLIK DAN RISIKO MSDM DI LEMBAGA PENDIDIKAN YPI AL-HIDAYAH CIBADAK
Essai Ini
disusun untuk Memenuhi Tugas UTS Mata Kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia
Dosen Pengampu:
Ahmad Munawwaru Zaman, M.Si.
Disusun oleh:
Kelompok 11
Fikri Wahyu
Pratama 11190530000082
M. Ali Imron
Hamzah Al-Muhdor 11190530000061
Siti Sofiah
Rahmawati 11190530000077
JURUSAN
MANAJEMEN DAKWAH 4B
FAKULTAS
ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UIN
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
1442 H/2021 M
MANAJEMEN KEUANGAN, KONFLIK DAN RISIKO
MSDM DI LEMBAGA PENDIDIKAN YPI AL-HIDAYAH CIBADAK
A.
Pengelolaan Manajemen Keuangan di YPI Al-Hidayah
Cibadak
Manajemen
Keuangan yaitu pengelolaan semua bentuk keuangan baik usaha memperoleh atau
mengumpulkan modal untuk membiayai aktifitas atau kegiatan yang secara langsung
maupun tidak langsung untuk menunjang penyelenggaraan secara efektif dan
efisien dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Menurut Bambang Ryanto, pengertian
manajemen keuangan adalah semua aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan yang
berhubungan dengan upaya memperoleh dana yang dibutuhkan dengan adanya biaya
yang seminimal mungkin dan syarat yang menguntungkan serta upaya untuk
mempergunakan dana yang diperoleh tersebut secara efisien dan efektif.
Manajemen keuangan dibutuhkan di
setiap perusahaan, organisasi, maupun lembaga-lembaga terkhusus lembaga
pendidikan. Secara
garis besar, manajemen keuangan yayasan adalah kegiatan pengelolaan keuangan
yayasan. Kegiatan tersebut meliputi perencanaan anggaran, pengorganisasian,
pembukuan, pelaksanaan atau pembelanjaan, pengawasan dan terakhir
pertanggungjawaban.
Manajemen keuangan perlu diterapkan
oleh institusi pendidikan supaya pemanfaatan dana yayasan bisa lebih efektif
dan efisien, penggunaan keuangan yayasan bisa lebih transparan dan
akuntabilitas nya terjamin, serta anggaran bisa digunakan dengan semestinya dan
penyalahgunaan anggaran bisa diminimalisir. Begitupun di Yayasan Perguruan
Islam Al-Hidayah Cibadak, yang berlokasi di Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat.
Yayasan pasti memiliki cara
bagaimana dalam mengatur, mengelola keuangan yang ada. Yayasan ini sudah
dibangun sejak dahulu dan sekarang berusia 54 tahun dan terdiri dari Madrasah
Tsanawiyah (MTS), Madrasah Aliyah (MA), dan pondok pesantren. Walaupun begitu,
dalam mengelola keuangan pasti mengikuti perkembangan zaman yang ada, tidak
hanya berpatok kepada ketentuan zaman dahulu.
Kami mendapat kesempatan untuk
mewawancarai KH. M. Sofyan Damiri selaku Ketua Yayasan YPI Al-Hidayah Cibadak
mengenai pengelolaan keuangan, mengatasi konflik, dan risiko yang kemungkinan
dapat terjadi. Menurut beliau, dalam mengatur keuangan yayasan adalah
diangkatnya salah seorang bendahara untuk mengurus keuangan yayasan. Bendahara
diberikan wewenang untuk mengelola keuangan tersebut dengan selalu melaporkan
kepada pihak yayasan minimal setiap bulan.
Setelah dipilih bendahara maka
yayasan membuat rekening atas nama yayasan (bukan atas nama pribadi) yang
ditanda tangani oleh ketua dan bendahara yayasan. Tujuan dibuatnya rekening ini
agar memudahkan dalam proses pendataan keluar masuknya uang dan dapat terpantau
oleh yayasan. Ketika ada dana yang masuk kepada yayasan, maka dana tersebut
biasanya dialokasikan untuk keperluan yayasan, baik sarana atau prasarana.
Yayasan bisa mendapatkan dana dari
beberapa sumber, diantaranya pemerintah, orang tua/wali, masyarakat, dana
swadaya, dan sumber lain. Dana pendidikan bisa bersumber dari pemerintah pusat
melalui APBN maupun pemerintah daerah melalui APBD. Contoh pendanaan
nonpersonalia untuk yayasan dari pemerintah yaitu program BOS. Yayasan ini
termasuk yayasan swasta dan biasanya mendapatkan program BOS.
Dana bisa berasal dari orang
tua/wali. Pihak yayasan biasanya juga menghimpun biaya pendidikan (SPP) dari
orang tua atau wali siswa. Semakin baik fasilitas yayasannya, biaya SPP
biasanya akan lebih mahal. Yayasan swasta yang bonafit biasanya menerapkan hal
ini.
Yayasan juga bisa mendapat pendanaan
dari masyarakat umum yang bukan termasuk orang tua atau wali siswa. Contohnya
seperti bantuan dari lembaga keuangan, sponsorship dari perusahaan, donasi dari
lembaga sosial, donasi dari alumni, dan lain-lain.
Selain itu juga bisa mendapatkan
dana dari usaha mandiri yayasan atau dana swadaya. Beberapa contoh usaha
mandiri yayasan yang bisa menghasilkan dana seperti kantin yang dikelola
yayasan secara mandiri, koperasi yayasan, panen kebun yayasan, lomba, dan event
kesenian. Selain yang sudah disebutkan di atas, masih ada sumber alternatif
lainnya.
Memanfaatkan keuangan yayasan tidak
bisa dilakukan dengan sembarangan. Keuangan yayasan berkaitan dengan
kepentingan banyak orang jadi harus memenuhi prinsip keadilan, akuntabilitas
publik, efisiensi, efektif, dan transparan. Pada pemanfaatan keuangan yayasan,
setidaknya perlu mengikuti langkah-langkah berikut ini:
1. Menyusun RAPBS
Pada tahap perencanaan, menyusun
RAPBS adalah hal wajib. RAPBS merupakan rencana penggunaan sumber dana untuk
pelaksanaan pendidikan di yayasan atau yayasan selama 1 tahun. Penyusunan RAPBS
biasanya melibatkan ketua yayasan, pembina yayasan, kepala sekolah, bendaraha,
seluruh guru, komite sekolah, staf tata usaha dan bagian dari komunitas
yayasan.
Pada RAPBS juga perlu dijelaskan
secara detail tentang plot anggarannya. Apakah anggaran tersebut merupakan
kelanjutan dari periode sebelumnya atau merupakan anggaran terhadap hal baru.
2.
Pengadaan
dan Pengalokasian Anggaran
Setelah RAPBS selesai dibahas dan
sudah disepakati, selanjutnya ditetapkan menjadi APBS atau saat ini lebih
dikenal dengan istilah RKAS. APBS/RKAS kemudian dijadikan patokan untuk
pelaksanaan segala program yayasan atau sekolah.
APBS/RKAS sangat penting karena bisa
berpengaruh terhadap seluruh kebijakan di yayasan. Pengawasan terhadap
pengelolaan anggaran pendidikan di masing-masing yayasan juga akan mengacu pada
APBS/RKAS. APBS/RKAS yang berhasil disusun dengan tepat, diharapkan bisa
mempengaruhi kualitas pelayanan pendidikan menjadi lebih baik juga.
3.
Pelaksanaan
Anggaran Yayasan
Pada tahap ini seluruh rencana mulai
direalisasikan. Supaya pelaksanaan anggaran berjalan baik, dibutuhkan
pengorganisasian. Pada pengorganisasian ini, akan ada pengelompokan satuan
tugas yang bertanggung jawab pada masing-masing hal.
4.
Pemantauan
Pihak yang bertugas perlu memantau
pelaksanaan anggaran supaya semuanya berjalan sesuai rencana, terlaksana secara
runtut dan diselesaikan sesuai tujuan. Hal ini sangat penting untuk dijalankan
supaya realisasi anggaran tepat sasaran dan tidak ada penyimpangan.
5.
Pembukuan
Keuangan Yayasan
Pada tahap pembukuan, seluruh
transaksi keuangan dicatat dengan sedemikian rupa. Seluruh bukti transaksi juga
perlu dicantumkan. Dengan demikian, seluruh transaksi bisa terlacak dan jelas
berapa nilai transaksinya.
6.
Pertanggung
Jawaban
Pada tahap ini, seluruh penerimaan
dan pengeluaran keuangan yayasan dilaporkan. Menggunakan laporan tersebut,
pihak yayasan akan mempertanggungjawabkan realisasi anggaran kepada sumber
dana.
7.
Penilaian
Kinerja
Mengacu pada laporan keuangan,
manajemen keuangan yayasan bisa dinilai kinerjanya. Apakah sudah sesuai harapan
atau belum. Pihak yayasan bisa melaksanakan manajemen keuangan yayasan yang
baik sesuai dengan abad 21 dengan memanfaatkan ICT.
Terdapat sistem informasi manajemen
keuangan yayasan yang bisa diaplikasikan oleh pihak yayasan. Sistem tersebut
akan memudahkan dalam pengolahan data, rekapitulasi laporan keuangan, dan
transparansi pada sumber dana.
Supaya bisa menjalankan manajemen
keuangan yayasan yang baik, membutuhkan SDM yang berpengetahuan dan kompeten.
Ketua yayasan adalah sosok sentral dalam hal ini.
B.
Mengatasi Konflik yang terjadi di YPI Al-Hidayah
Cibadak
Konflik merupakan kondisi terjadinya
ketidakcocokan antar nilai atau tujuan-tujuan yang ingin dicapai, baik yang ada
dalam diri individu maupun dalam hubungannya dengan orang lain. Setiap
perusahaan, organisasi, lembaga, maupun yayasan pasti memiliki konflik yang
terjadi baik di internal maupun eksternalnya.
Konflik kelembagaan dominan muncul
di lembaga pendidikan Islam yang berada dalam wilayah pengelolaan Yayasan.
Lembaga pendidikan Islam, seperti pondok pesantren dan madrasah memiliki kompleksitas
persoalan yang rentan terjadi konflik, baik konflik antar individu ataupun
konflik antar kelompok.
Konflik akan selalu ada kapan, dan
dimana saja. Hal yang terpenting dilakukan adalah mempersiapkan aturan-aturan
untuk mengatasi terjadinya konflik yang tidak sehat tersebut. Munculnya konflik
biasanya diawali dengan munculnya bibit-bibit konflik.
Sehubungan dengan itu pimpinan atau
ketua yayasan bertanggung jawab untuk mengindentifikasi sumber-sumber dan
tipe-tipe konflik tersebut sedini mungkin, serta menganalisa akibat-akibat yang
mungkin timbul. Begitu pula pimpinan harus mengetahui kekuatan-kekuatan dan
kelemahan untuk dapat menentukan langkah-langkah preventif yang dilakukan
secara tepat.
Konflik yang terjadi walaupun
menimbulkan ketegangan, tetap diperlukan untuk kemajuan dan perkembangan
lembaga. Konflik dapat menjadi kekuatan jika dikelola dengan baik, dan dapat
dijadikan alat untuk melakukan perubahan, akan tetapi sebaliknya dapat
menurunkan kinerja jika tidak dikendalikan dengan baik. Maka dari itu
dibutuhkannya sutau pengelolaan atau manajemen ketika adanya konflik.
Manajemen konflik merupakan
langkah-langkah yang diambil para pelaku atau pihak ketiga dalam rangka
mengarahkan perselisihan ke arah hasil tertentu yang mungkin atau tidak mungkin
menghasilkan suatu akhir berupa penyelesaian konflik dan mungkin atau tidak
mungkin menghasilkan ketenangan, hal positif, kreatif, bermufakat, atau
agresif. Manajemen konflik dapat melibatkan bantuan diri sendiri, kerjasama
dalam memecahkan masalah (dengan atau tanpa bantuan pihak ketiga) atau
pengambilan keputusan oleh pihak ketiga.
Dengan manajemen konflik pemimpin
dapat mengubah konflik menjadi sumber kekuatan untuk meningkatkan kinerja dan
produktivitas. Konflik perlu diolah dan dibuat menjadi kekuatan sebuah lembaga.
Tentunya semua itu perlu tata kelola manajemen konflik yang sesuai dengan
kebutuhan dan sasarannya.
Konflik disatu sisi dapat
bermanfaat, di sisi lain dapat merugikan jika tidak dikelola dengan baik.
Demikian halnya dalam sebuah lembaga, meskipun kehadiran konflik sering
menimbulkan ketegangan, tetap diperlukan untuk kemajuan dan perkembangan
lembaga.
Manajemen konflik merupakan faktor
penting dalam mewujudkan lembaga yang produktif. Untuk itu lembaga pendidikan
harus dikelola oleh manajer pendidikan yang profesional, dalam arti mampu
mendaya gunakan sumber daya yang ada dan dapat mengelola konflik secara baik
shingga kinerja anggota lembaga dapat ditingkatkan secara optimal.
Dengan meningkatnya kinerja, maka
meningkat pula produktivitas lembaga. Seorang pemimpin yang ingin memajukan
lembaganya, harus memahami faktor-faktor apa saja yang menyebabkan timbulnya
konflik, baik konflik yang alami maupun konflik yang diciptakan. Kemampuan
mengelola konflik diperlukan oleh semua pemimpin lembaga, termasuk pimpinan
Yayasan Perguruan Islam Al-Hidayah Cibadak.
Menurut Stevenin (Stevenin; 134-135)
terdapat lima langkah meraih kedamaian dalam konflik. Apa pun sumber
masalahnya, lima langkah berikut ini bersifat mendasar dalam mengatasi
kesulitan:
1.
Pengenalan
Kesenjangan
antara keadaan yang ada diidentifikasi dan bagaimana keadaan yang seharusnya.
Satu-satunya yang menjadi perangkap adalah kesalahan dalam mendeteksi (tidak
mempedulikan masalah atau menganggap ada masalah padahal sebenarnya tidak ada).
2.
Diagnosis
Inilah
langkah yang terpenting. Metode yang benar dan telah diuji mengenai siapa, apa,
mengapa, dimana, dan bagaimana berhasil dengan sempurna. Pusatkan perhatian
pada masalah utama dan bukan pada hal-hal sepele.
3.
Menyepakati
suatu solusi
Kumpulkanlah
masukan mengenai jalan keluar yang memungkinkan dari orang-orang yang terlibat
di dalamnya. Saringlah penyelesaian yang tidak dapat diterapkan atau tidak
praktis. Jangan sekali-kali menyelesaikan dengan cara yang tidak terlalu baik.
Carilah yang terbaik.
4.
Pelaksanaan
Ingatlah
bahwa akan selalu ada keuntungan dan kerugian. Hati-hati, jangan biarkan
pertimbangan ini terlalu mempengaruhi pilihan dan arah kelompok.
5.
Evaluasi
Penyelesaian
itu sendiri dapat melahirkan serangkaian masalah baru. Jika penyelesaiannya
tampak tidak berhasil, kembalilah ke langkah-langkah sebelumnya dan cobalah
lagi.
Begitupun dengan Yayasan Perguruan
Islam Al-Hidayah Cibadak, ketika ada suatu konflik yang terjadi maka
diselesaikan secara kekeluargaan dan mengadakan rapat/musyawarah yayasan. Untuk
menghindari konflik yang terjadi juga, yayasan sering mengadakan rapat atau
musyawarah yayasan yang diadakan maksimal enam bulan sekali.
C.
Risiko Manajemen Sumber Daya Manusia di YPI Al-Hidayah
Cibadak
Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM)
juga berperan sama pentingnya dalam memberikan efek yang baik bagi yayasan.
Jika tidak diterapkan dengan baik, maka berbagai risiko manajemen sumber daya
manusia mungkin akan terjadi di suatu yayasan, organisasi maupun lembaga.
Yayasan yang memiliki manajemen sumber daya manusia yang baik, akan menciptakan
juga lingkungan kerja yang kondusif. Ada lima indikator keberhasilan pengelolaan SDM:
1. Tingkat produktivitas
Semakin tinggi tingkat produktivitas semakin baik tingkat
keberhasilan pengelolaan SDM. Tingkat produktivitas yang baik perlu dilihat
dengan menggunakan patokan atau benchmark terhadap lembaga lain dan dengan
melihat pertumbuhan tingkat produktivitasnya.
2. Tingkat perputaran anggota
Semakin rendah perputaran anggota (turnover)
berarti pengelolaan SDM semakin baik. Perputaran anggota yang tinggi
mengindikasikan adanya komponen dalam kesepakatan transaksi tersebut tidak
dapat terpenuhi.
3. Tingkat mangkir
Semakin tinggi tingkat mangkir (absentism) berarti
semakin rendah kualitas pengelolaan SDM. Tingkat mangkir yang tinggi merupakan
akibat dari rusaknya suasana tersebut.
4. Tingkat kepuasan
Tingkat kepuasan juga menjadi ukuran yang penting dalam
pengelolaan SDM. Setiap anggota, dalam membuat transaksi pertukaran dengan
lembaga, memiliki ekspektasi tertentu. Pencapaian tersebut menjadi sumber
kepuasan anggota.
5. Tingkat kewargaan anggota
Kewargaan anggota (employee citizenship) merupakan
ukuran seberapa jauh seorang anggota menunjukan sikap dan perilakunya sebagai
warga perusahaan yang baik. Semakin baik anggota memenuhi transaksi, bahkan
memaksimalisasi nilai transaksi, semakin baik pengelolaan SDM dalam perusahaan.
Manajemen risiko adalah segala
proses kegiatan yang dilakukan semata untuk meminimalkan bahkan mencegah
terjadinya risiko perusahaan. Di dalamnya ada kegiatan identifikasi,
perencanaan, strategi, tindakan, pengawasan dan evaluasi terhadap hal-hal
negatif yang kemungkinan akan menimpa usaha. Bisa dibilang juga jenis manajemen
ini adalah satu metode untuk mencegah perusahaan mengalami masalah. Dalam hal
ini berarti yayasan.
Risiko
yang ditimbulkan SDM perlu dikelola agar tidak menimbulkan kerugian, baik
finansial maupun reputasi, hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko merugikan.
Manajemen risiko merupakan salah satu cara untuk mengatasi hal itu. Karena
manajemen risiko merupakan proses pengukuran atau penilaian serta memerlukan
seni untuk mengembangkan strategi pengelolaannya, misalnya risiko itu
dipindahkan kepada pihak lain, mengurangi efek negatif dari risiko, dan
lain-lain. Pada model pendekatan tradisional, risiko yang ditimbulkan oleh SDM
hanya berkisar pada kematian, tuntutan hukum, dan upah). Agar tidak menimbulkan
risiko, maka SDM perlu dikelola secara profesional, yaitu dengan memperhatikan
kaidah-kaidah yang ada dalam manajemen SDM.
Untuk mengurangi
risiko perlu pula dilakukan pengendalian internal. Suatu organisasi yang
dikelola tentunya memiliki unsur-unsur pengelolaan
atau manajemen yaitu unsur perencanaan (planning), unsur
pengorganisasian (organizing), unsur pelaksanaan (actuating) dan unsur
pengendalian (controlling). Unsur tersebut diperlukan
untuk mencapai tujuan organisasi. Sistem pengendalian (controlling) dapat
berasal dari organisasinya sendiri (intern) maupun berasal
dari luar organisasinya (ekstern). Objek yang dikendalikan
oleh sistem ini adalah unsur-unsur pengelolaan organisasi seperti yang
tercantum di atas, yaitu pengendalian terhadap perencanaan, pengendalian
terhadap pengorganisasian dan pengendalian terhadap pelaksanaan. Pengendalian
intern harus terus dikembangkan agar tujuan organisasi dapat tercapai.
Untuk meminimalisir risiko yang akan
terjadi, maka yayasan membuat struktur kepengurusan yang sesuai dengan
kemampuan dan kebutuhan yang ada. Adanya struktur kepengurusan tertulis dari
MSDM tentu akan sangat membantu yayasan dalam memberikan pekerjaan kepada
masing-masing karyawan. Sebaliknya, struktur kepengurusan yang buruk dapat
menjadi risiko manajemen sumber daya manusia lain yang akan yayasan hadapi.
Yayasan biasanya selalu mengadakan musyawarah secara kekeluargaan
dengan se-dini mungkin agar terhindar dari risiko, dan konflik yang akan
terjadi. Musyawarah ini biasanya diikuti oleh ketua yayasan, kepala MTS-MA,
seluruh guru di yayasan, dan staf administrasi atau tata usaha yayasan. Karena
dengan diadakannya musyawarah, maka komunikasi antar yayasan dengan pihak
sekolah dapat berjalan dengan baik, efektif, dan efisien. Sehingga dapat
mengurangi risiko yang akan terjadi.
